Dari pantai, ogoh-ogoh, sampai sepi! (2)
Memang dasarnya nasib saya kurang begitu bagus hari itu, sepulangnya dari main-main di pantai dengan teman lama, saya pun masih harus mengalami kesulitan dan apesnya hanya untuk nonton festival “ogoh-ogoh” di jalan Kartika Plaza. Berangkat setelah menyelesaikan melihat indahnya sunset pantai Kuta yang entah mengapa begitu jelas tanpa awan tebal menutupi hari itu, jam di ponsel saya menunjukkan waktu sekitar pukul 7 malam. Dengan agak buru-buru, saya, Rahma, dan saudarinya langsung berkendara sepeda motor yang tadi di parkir di Minimart dekat Kamasutra.
Kami pun menyusuri jalan kecil (tapi tidak sempit) di Benesari untuk memotong langsung ke daerah Legian. Waduh, sepanjang jalan itu, semua toko dan kios-kios sudah pada tutup dan gelap. Persiapan penutupan akses menjelang Nyepi mungkin, tapi tidak sampai gelap gulita. Baru sampai di gang keluar ke jalan raya, macetnya kendaraan dan banyaknya pejalan kaki membuat repot jalan raya yang tadinya searah, berubah menjadi dua arah dengan beberapa Polisi yang mengatur kami-kami yang main nyelonong meski sudah dengar “prit prit prit” untuk maju bergantian dengan kendaraan lain. Saya pun tak hilang akal, melihat spot kosong di seberang jalan, saya tancap gas saja motor sampai meripit ke trotoar. Dan “tin tin”, bunyi klakson mobil patroli dari arah berlawanan yang berhenti karena mungkin kaget betapa seenak udelnya saya nyebrang jalan trus diem di sebelah trotoar.
“Hati-hati, Mas. Maju sedikit, mobilnya mau lewat.”
Hahaha, saya cuma bisa meringis melihat pak Polisi dari kursi sopir yang protes karena jalannya saya potong tanpa dosa. Ya, yang penting sekarang sudah sampai di Legian. Tadinya mau terus sampai keluar jalan itu, tapi jalanan di-stop dekat ESC Sky Garden setelah viaipi. Waduh, lewat mana ini? Tidak usah pusing, belok saja lah saya di gang Billabong menuju Poppies II. Rutenya tidak tahu kemana, tapi ada ide untuk parkir di depan Hard Rock, jadi nanti jalan kaki ke tempat festival.
Ternyata, jalan kakinya jauh sekali. Malas juga, bisa pegel-pegel sampe di tujuan. Akhirnya, balik lagi saya naik motor mencari jalan lain agar bisa keluar dari pantai Kuta. Melihat situasi sih, kemacetan sudah sepi. Maka saya nekad lagi masuk ke Poppies I dengan harapan bisa keluar ya paling tidak ke jalan raya Kuta. Tapi ternyata, saya tertipu penunjuk arah di gang-gang sempit terkutuk itu. Tahu-tahu saya sudah nongol di Kuta Square, kawasan shopping arcade yang isinya ruko-ruko dan toko-toko baju serta bistro-bistro yang super dekat dengan saat saya parkir di Hard Rock (buat apa tadi saya mepet-mepet masuk Poppies I?).
Tapi sudahlah, toh akhirnya saya juga sudah dekat dengan lokasi festival itu. Pagar di samping pura setempat pun saya jadikan parkiran motor (maaf sekali kalau ada penunggu pura di situ). Aduh, nasib apes sepertinya belum juga selesai. Venue festival sudah penuh desak pengunjung yang mau lihat “ogoh-ogoh”, tidak hanya pribumi dan turis lokal yang semangat menonton, tapi juga bule-bule dari segala macam bentuk, gender, usia, dan benua. Banyak yang lengkap dan niat sekali sampai bawa camcorder, kamera digital, lengkap juga dengan sensitive microphone yang biasa dipakai shooting sinteron di televisi itu. Kalah saya, hahaha. Memang tidak mempersiapkan untuk yang satu itu, saya hanya dibekali dengan kamera ponsel yang cuma 1,3 megapixel dengan memori pas-pasan.
Langkah selanjutnya, mencari spot untuk sightseeing. Susah juga untuk hal ini, pagar manusia yang rapat dan tinggi-tinggi (menderitanya jadi orang pendek, di saat seperti ini lah situasi yang menyebalkan buat saya) sudah susah untuk digeser. Akhirnya saya bingung tengok sana-sini mencari barisan mana yang agak pendek dan kecil-kecil supaya bisa saya terobos dan nongkrong paling depan. Ah, tidak ada! Pagar betisnya rapat, tapi meski begitu saya dan tetangga-tetangga dapat tempat (sedikit) luang di samping panggung. Di saat seperti ini, hal yang paling saya pikirkan adalah panas. Sumpah, Bali itu sudah panas karena punya iklim tropis. Tapi yang satu ini, sudah panas, sumpek, sempit, pengap, di tambah lagi keringat sebelah. Wow, toh pada akhirnya siapa sih yang tidak berkeringat kalau di tengah kerumunan. Sudah lah, saya biarkan saja.
10 menit, 15 menit, saya masih mencari-cari bagaimana supaya bisa ada di depan. Mulai dari bilang “Permisi, permisi mau lewat”, langsung dengan nekat trobos sana sini, sampai dengan sengaja nebeng rombongan bule-bule berbagai macam ukuran yang mau menyebrang ke hotelnya di daerah itu, hasilnya nol besar. Aduh pusingnya, mana pertunjukan sudah dari tadi di mulai dan sudah ada beberapa “ogoh-ogoh” lewat yang kelihatan sih (tapi kurang puas). Dan ide gila itu muncul, “ting” dengan lancar menolehkan saya pada pura di samping tadi tempat saya parkir. Lihat punya lhat, ternyata ada gerbang masuknya. Saya lihat seksama, aha! Tidak terkunci, meski gemboknya menggantung. Saya telusuri lebih jauh, aha! Ujung pagarnya yang ada di depan langsung menghadap jalan raya yang dilewati peserta festival.
Sikat! Tanpa pikir panjang, saya dan Rahma masuk saja ke pura itu (tentunya permisi secara simbolis dulu kalau-kalau ada hal ghoibnya di situ). Dengan mengendap-endap menuju pagar depan, saya malah cekikikan dan ketawa ketiwi sesampainya di depan. Dan jreng jreng jreng, saya bisa lihat festival itu dengan jelas. Hahaha, senangnya. Tapi tak lama kemudian, ponsel saya bunyi. Ada panggilan masuk dari tetangga yang menunggu di luar.
“Cepet keluar, gerbangnya mau dikunci,” dia bilang.
Hah? Mampus! Sudah, pikirkan saja nanti “ogoh-ogoh”-nya, yang penting sekarang saatnya keluar dan menyelamatkan diri sendiri. Dari pada harus terkunci dan memanjat pagar, kalau ketahuan lebih malu lagi bukan jadinya? Setelah keluar dari pura itu, saya putuskan pulang saja dan beristirahat untuk siap-siap menghadapi Nyepi yang jatuh hari ini. Benar-benar deh, kalau memang tidak jodoh dan memang sedang sial, kita tidak bisa apa-apa. Lebih baik diterima saja. Hahaha…
