*Tulisan ini saya buat ternyata masih ada hubungannya dan berbau seperti post saya sebelumnya, mungkin agak monoton. Tapi ya bagaimana lagi, memang ini lah keadaan saya sekarang, bosan sekali dengan rutinitas yg itu-itu saja.*
Nah, itu dia masalahnya. Pernah tidak sekali dalam pikiran Anda, Anda merasa sedang tersesat dalam suatu rutinitas yang tidak terasa cocok dengan Anda? Kalau saya sering sekali. Entah bagaimana mengatakannya, tapi saya kerap kali menjadi seperti tidak bersemangat untuk melakukannya. Bekerja maksud saya. Masalahnya bukannya malas bekerja, tapi bekerja di bidang apa yang cocok dengan saya.
Saya sudah 3 kali bekerja di perusahaan yang berbeda sejak saya lulus dari sekolah kejuruan. Pertama, saya diterima di sebuah perusahaan penyedia layanan seluler tepat setelah tamat belajar. Pekerjaan itu sesuai dengan jurusan yang saya ambil, yaitu yang hubungannya dengan tekonolgi jaringan. Tempat kerjanya mapan dan terbesar kedua di Indonesia, suasana kerja nyaman, gaji pun besar meski atasan kurang begitu saya sukai entah karena alasan saya masih berpikiran kekanak-kanakan atau memang orang itu menyebalkan. Keadaan begitu terlihat sempurna awalnya, kenyataannya saya hanya bertahan 1 (satu) tahun di sana. Dengan bekal pengalaman itu saya memutuskan untuk resign dari kantor dan mencoba mencari pekerjaan yang lebih cocok dengan saya. Menurut saya pribadi, pekerjaannya itu doable (bisa dilakukan). Tapi serasa tidak ada gairah untuk bekerja di bidang itu.
Jadi lah saya menganggur seminggu. Pekerjaan kedua yang saya dapat sangat bertolak belakang dari keterampilan saya sebelumnya. Saya diterima di sebuah travel agent yang main market-nya para lansia yang ingin memiliki visa pensiun untuk tinggal di Indonesia. Tentu saja saya bukannya bergaul dengan para lansia itu, saya direkrut di bagian air-ticketing yang mengurusi “dunia pertiketan” itu. Pekerjaannya tidak terlalu susah, mudah dipelajari malah. Tempat kerja dan suasana jauh lebih nyaman dari tempat kerja sebelumnya. Saya bisa berekspresi dan belajar dengan cara saya sendiri dan itu tidak saya dapatkan di tempat semula. Gaji juga besar, meski tidak ada extra income seperti lembur-lembur. Enak bukan? Buktinya, malah hanya sebulan saya bekerja di tempat itu. Resign lagi lah saya, alasannya karena job desk saya itu bercabang dua dan tidak berhubungan tapi upah saya hanya untuk 1 (satu) job desk saja. Sempat saya menanyakan kenaikan gaji, tidak ada respon!
Pekerjaan ketiga yang sekarang masih saya jalani juga tetap berkutat dengan bidang pariwisata, tetap di travel agent. Kali ini lebih besar, lebih modern dan banyak sekali segmentasi pasarnya. Saya juga tetap menjadi staf air-ticketing di tampat baru ini. Seperti sebelumnya, tempat kerja dan suasananya lebih menyenangkan. Pokoknya serba plus buat saya. Tapi karena pada dasarnya di dunia itu selalu seimbang, ada minus-nya juga. Gaji dan boss sangat mencekik leher saya.
Ah, di dunia ini tidak ada yang sempurna dan enak-enak saja! Terlalu banyak kah saya meminta yang aneh-aneh untuk hidup saya? Tidak bolehkah saya minta yang enak-enak saja? Menurut saya wajar karena hidup ini sudah banyak yang tidak enak. Saya merasa bodoh sekali kalau mengingat-ingat kenapa saya berpikiran seperti ini. Mungkin karena saya belum tahu jalan mana ya yang harunya saya pilih. Tapi kapan? Kapan akhirnya saya bisa mengerti kemana saya harus berjalan? Itu yang belum saya pahami sampai saat ini.
Banyak yang bilang orang akan cepat terlihat hasil kerjanya kalau dia sudah berada di jalan yang tepat di mana dia mencari penghidupan. Saya berharap itu benar adanya, saya percaya kalau saya berusaha cukup keras dan tidak berhenti, saya akan melihat “titik terang” di dalam perjalanan ini (bah, kok jadi berlebihan begini). Well, I think I’m stuck here right now…

