Pertanyaannya, saya harus kemana?
*Tulisan ini saya buat ternyata masih ada hubungannya dan berbau seperti post saya sebelumnya, mungkin agak monoton. Tapi ya bagaimana lagi, memang ini lah keadaan saya sekarang, bosan sekali dengan rutinitas yg itu-itu saja.*
Nah, itu dia masalahnya. Pernah tidak sekali dalam pikiran Anda, Anda merasa sedang tersesat dalam suatu rutinitas yang tidak terasa cocok dengan Anda? Kalau saya sering sekali. Entah bagaimana mengatakannya, tapi saya kerap kali menjadi seperti tidak bersemangat untuk melakukannya. Bekerja maksud saya. Masalahnya bukannya malas bekerja, tapi bekerja di bidang apa yang cocok dengan saya.
Saya sudah 3 kali bekerja di perusahaan yang berbeda sejak saya lulus dari sekolah kejuruan. Pertama, saya diterima di sebuah perusahaan penyedia layanan seluler tepat setelah tamat belajar. Pekerjaan itu sesuai dengan jurusan yang saya ambil, yaitu yang hubungannya dengan tekonolgi jaringan. Tempat kerjanya mapan dan terbesar kedua di Indonesia, suasana kerja nyaman, gaji pun besar meski atasan kurang begitu saya sukai entah karena alasan saya masih berpikiran kekanak-kanakan atau memang orang itu menyebalkan. Keadaan begitu terlihat sempurna awalnya, kenyataannya saya hanya bertahan 1 (satu) tahun di sana. Dengan bekal pengalaman itu saya memutuskan untuk resign dari kantor dan mencoba mencari pekerjaan yang lebih cocok dengan saya. Menurut saya pribadi, pekerjaannya itu doable (bisa dilakukan). Tapi serasa tidak ada gairah untuk bekerja di bidang itu.
Jadi lah saya menganggur seminggu. Pekerjaan kedua yang saya dapat sangat bertolak belakang dari keterampilan saya sebelumnya. Saya diterima di sebuah travel agent yang main market-nya para lansia yang ingin memiliki visa pensiun untuk tinggal di Indonesia. Tentu saja saya bukannya bergaul dengan para lansia itu, saya direkrut di bagian air-ticketing yang mengurusi “dunia pertiketan” itu. Pekerjaannya tidak terlalu susah, mudah dipelajari malah. Tempat kerja dan suasana jauh lebih nyaman dari tempat kerja sebelumnya. Saya bisa berekspresi dan belajar dengan cara saya sendiri dan itu tidak saya dapatkan di tempat semula. Gaji juga besar, meski tidak ada extra income seperti lembur-lembur. Enak bukan? Buktinya, malah hanya sebulan saya bekerja di tempat itu. Resign lagi lah saya, alasannya karena job desk saya itu bercabang dua dan tidak berhubungan tapi upah saya hanya untuk 1 (satu) job desk saja. Sempat saya menanyakan kenaikan gaji, tidak ada respon!
Pekerjaan ketiga yang sekarang masih saya jalani juga tetap berkutat dengan bidang pariwisata, tetap di travel agent. Kali ini lebih besar, lebih modern dan banyak sekali segmentasi pasarnya. Saya juga tetap menjadi staf air-ticketing di tampat baru ini. Seperti sebelumnya, tempat kerja dan suasananya lebih menyenangkan. Pokoknya serba plus buat saya. Tapi karena pada dasarnya di dunia itu selalu seimbang, ada minus-nya juga. Gaji dan boss sangat mencekik leher saya.
Ah, di dunia ini tidak ada yang sempurna dan enak-enak saja! Terlalu banyak kah saya meminta yang aneh-aneh untuk hidup saya? Tidak bolehkah saya minta yang enak-enak saja? Menurut saya wajar karena hidup ini sudah banyak yang tidak enak. Saya merasa bodoh sekali kalau mengingat-ingat kenapa saya berpikiran seperti ini. Mungkin karena saya belum tahu jalan mana ya yang harunya saya pilih. Tapi kapan? Kapan akhirnya saya bisa mengerti kemana saya harus berjalan? Itu yang belum saya pahami sampai saat ini.
Banyak yang bilang orang akan cepat terlihat hasil kerjanya kalau dia sudah berada di jalan yang tepat di mana dia mencari penghidupan. Saya berharap itu benar adanya, saya percaya kalau saya berusaha cukup keras dan tidak berhenti, saya akan melihat “titik terang” di dalam perjalanan ini (bah, kok jadi berlebihan begini). Well, I think I’m stuck here right now…
Finding the right job.
*I often got feeling that I’m forced to wake up off my bed and walk to the bathroom, take a shower, brush my teeth, just to get ready to work to where I do really feel bored every single minute. Am I that lazy or I do have something to be cleared about: Am I in the right job?*
I believe every one of us (of course for them who are in their productive age and still working) wish to work in their preferable field, passion, and ability. Working for company that suits their experiences which will be very helpful to achieve the goals: either easiness and happy life or wealth. Who doesn’t? I used to be one of them, wanting to have a 5-days-a-week-job, working for 8-hours-a-day (I must say that I love Indonesian’s office hour,
), well-paid, and able to enjoy life as days go by. That was what I think before I face the reality, I made a mistake. We know that life is not that easy since we have to race against billions of human around the globe, but I do not know that real life turns out to be a sprint against newly workers to get into a right (or should I say top) position in the company which will ease my way to increase my income since in my country, the classes of society are classified by how much you earned. It is so depressing for me.
Why? I should be thanking God for giving me all of what I achieved so far such as: living in a peaceful island of Bali, doing well at the university while I went to office in the morning, having a great relationship with my colleagues, and etc. I don’t know about you, but I’m sure, we do feel that they’re not enough for us sometimes, right? Is it wrong to have the feeling of needing something more and more?
If we could choose a job that suits our background, it won’t be that hard to apply for a work which there’ll be dozens of it. But the difference is it’s not that many as it seems, some of them are fully occupied. It forces us to take and say yes to the-not-preferable-job and deal with it. That condition affects the result of what we did. Some of us said that’s not the best that we can do. As the assignment turns out to be something that we can’t be proud of or even fail, it brings us down. I already felt it once. As we fall deeper into that not-preferable-job (I say not-suitable-job), we’ll often feel uncomfortable while doing our work. We’ll even compare our job desk to other co-worker as a result of jealousy of what they get, in our perspective, is: lighter, easier, and better-paid than what we get.
Anne Hestyanne, a career consultant from First Asia Consultants, quoted that, “In some ways, we are jealous seeing someone who earned more than we earned in the same field of job. We’re too busy worrying about neighbor’s ‘grasses’ instead of watering ours. If you love and comfortable of what you do now, this might not be happened.”
I figured it out, it is about the question “Who am I?” I should know what I have to say to answer it before deciding to find the right job. I must know me better, and then commit a decision for it. It might be uneasy to find the right job, but it is easier now to figure out what we’re good and where we suit at. Willingness, ability, personality, I should think harder to choose either I stay or resign and seeking for vacancies?
Dari pantai, ogoh-ogoh, sampai sepi! (2)
Memang dasarnya nasib saya kurang begitu bagus hari itu, sepulangnya dari main-main di pantai dengan teman lama, saya pun masih harus mengalami kesulitan dan apesnya hanya untuk nonton festival “ogoh-ogoh” di jalan Kartika Plaza. Berangkat setelah menyelesaikan melihat indahnya sunset pantai Kuta yang entah mengapa begitu jelas tanpa awan tebal menutupi hari itu, jam di ponsel saya menunjukkan waktu sekitar pukul 7 malam. Dengan agak buru-buru, saya, Rahma, dan saudarinya langsung berkendara sepeda motor yang tadi di parkir di Minimart dekat Kamasutra.
Kami pun menyusuri jalan kecil (tapi tidak sempit) di Benesari untuk memotong langsung ke daerah Legian. Waduh, sepanjang jalan itu, semua toko dan kios-kios sudah pada tutup dan gelap. Persiapan penutupan akses menjelang Nyepi mungkin, tapi tidak sampai gelap gulita. Baru sampai di gang keluar ke jalan raya, macetnya kendaraan dan banyaknya pejalan kaki membuat repot jalan raya yang tadinya searah, berubah menjadi dua arah dengan beberapa Polisi yang mengatur kami-kami yang main nyelonong meski sudah dengar “prit prit prit” untuk maju bergantian dengan kendaraan lain. Saya pun tak hilang akal, melihat spot kosong di seberang jalan, saya tancap gas saja motor sampai meripit ke trotoar. Dan “tin tin”, bunyi klakson mobil patroli dari arah berlawanan yang berhenti karena mungkin kaget betapa seenak udelnya saya nyebrang jalan trus diem di sebelah trotoar.
“Hati-hati, Mas. Maju sedikit, mobilnya mau lewat.”
Hahaha, saya cuma bisa meringis melihat pak Polisi dari kursi sopir yang protes karena jalannya saya potong tanpa dosa. Ya, yang penting sekarang sudah sampai di Legian. Tadinya mau terus sampai keluar jalan itu, tapi jalanan di-stop dekat ESC Sky Garden setelah viaipi. Waduh, lewat mana ini? Tidak usah pusing, belok saja lah saya di gang Billabong menuju Poppies II. Rutenya tidak tahu kemana, tapi ada ide untuk parkir di depan Hard Rock, jadi nanti jalan kaki ke tempat festival.
Ternyata, jalan kakinya jauh sekali. Malas juga, bisa pegel-pegel sampe di tujuan. Akhirnya, balik lagi saya naik motor mencari jalan lain agar bisa keluar dari pantai Kuta. Melihat situasi sih, kemacetan sudah sepi. Maka saya nekad lagi masuk ke Poppies I dengan harapan bisa keluar ya paling tidak ke jalan raya Kuta. Tapi ternyata, saya tertipu penunjuk arah di gang-gang sempit terkutuk itu. Tahu-tahu saya sudah nongol di Kuta Square, kawasan shopping arcade yang isinya ruko-ruko dan toko-toko baju serta bistro-bistro yang super dekat dengan saat saya parkir di Hard Rock (buat apa tadi saya mepet-mepet masuk Poppies I?).
Tapi sudahlah, toh akhirnya saya juga sudah dekat dengan lokasi festival itu. Pagar di samping pura setempat pun saya jadikan parkiran motor (maaf sekali kalau ada penunggu pura di situ). Aduh, nasib apes sepertinya belum juga selesai. Venue festival sudah penuh desak pengunjung yang mau lihat “ogoh-ogoh”, tidak hanya pribumi dan turis lokal yang semangat menonton, tapi juga bule-bule dari segala macam bentuk, gender, usia, dan benua. Banyak yang lengkap dan niat sekali sampai bawa camcorder, kamera digital, lengkap juga dengan sensitive microphone yang biasa dipakai shooting sinteron di televisi itu. Kalah saya, hahaha. Memang tidak mempersiapkan untuk yang satu itu, saya hanya dibekali dengan kamera ponsel yang cuma 1,3 megapixel dengan memori pas-pasan.
Langkah selanjutnya, mencari spot untuk sightseeing. Susah juga untuk hal ini, pagar manusia yang rapat dan tinggi-tinggi (menderitanya jadi orang pendek, di saat seperti ini lah situasi yang menyebalkan buat saya) sudah susah untuk digeser. Akhirnya saya bingung tengok sana-sini mencari barisan mana yang agak pendek dan kecil-kecil supaya bisa saya terobos dan nongkrong paling depan. Ah, tidak ada! Pagar betisnya rapat, tapi meski begitu saya dan tetangga-tetangga dapat tempat (sedikit) luang di samping panggung. Di saat seperti ini, hal yang paling saya pikirkan adalah panas. Sumpah, Bali itu sudah panas karena punya iklim tropis. Tapi yang satu ini, sudah panas, sumpek, sempit, pengap, di tambah lagi keringat sebelah. Wow, toh pada akhirnya siapa sih yang tidak berkeringat kalau di tengah kerumunan. Sudah lah, saya biarkan saja.
10 menit, 15 menit, saya masih mencari-cari bagaimana supaya bisa ada di depan. Mulai dari bilang “Permisi, permisi mau lewat”, langsung dengan nekat trobos sana sini, sampai dengan sengaja nebeng rombongan bule-bule berbagai macam ukuran yang mau menyebrang ke hotelnya di daerah itu, hasilnya nol besar. Aduh pusingnya, mana pertunjukan sudah dari tadi di mulai dan sudah ada beberapa “ogoh-ogoh” lewat yang kelihatan sih (tapi kurang puas). Dan ide gila itu muncul, “ting” dengan lancar menolehkan saya pada pura di samping tadi tempat saya parkir. Lihat punya lhat, ternyata ada gerbang masuknya. Saya lihat seksama, aha! Tidak terkunci, meski gemboknya menggantung. Saya telusuri lebih jauh, aha! Ujung pagarnya yang ada di depan langsung menghadap jalan raya yang dilewati peserta festival.
Sikat! Tanpa pikir panjang, saya dan Rahma masuk saja ke pura itu (tentunya permisi secara simbolis dulu kalau-kalau ada hal ghoibnya di situ). Dengan mengendap-endap menuju pagar depan, saya malah cekikikan dan ketawa ketiwi sesampainya di depan. Dan jreng jreng jreng, saya bisa lihat festival itu dengan jelas. Hahaha, senangnya. Tapi tak lama kemudian, ponsel saya bunyi. Ada panggilan masuk dari tetangga yang menunggu di luar.
“Cepet keluar, gerbangnya mau dikunci,” dia bilang.
Hah? Mampus! Sudah, pikirkan saja nanti “ogoh-ogoh”-nya, yang penting sekarang saatnya keluar dan menyelamatkan diri sendiri. Dari pada harus terkunci dan memanjat pagar, kalau ketahuan lebih malu lagi bukan jadinya? Setelah keluar dari pura itu, saya putuskan pulang saja dan beristirahat untuk siap-siap menghadapi Nyepi yang jatuh hari ini. Benar-benar deh, kalau memang tidak jodoh dan memang sedang sial, kita tidak bisa apa-apa. Lebih baik diterima saja. Hahaha…
Dari pantai, ogoh-ogoh, sampai sepi! (1)
Senangnya saya bisa libur kuliah panjang (meski banyak tugas yang harusnya bisa diselesaikan sebelum middle test, tapi masih saya tumpuk)! Baru kali ini sejak beberapa lama, saya baru bisa pergi main-main ke pantai Kuta lagi bertemu Intan, Meta, dan Ilman (atau Hilman?). Benar lho, kalau hari-hari kerja biasanya saya sibuk dengan kerja di pagi hari dan kuliah di malamnya. Maklum, saya lulusan SMK, jadi musti sekolah lagi biar pintar (hahaha… percaya?).
Entah terakhir kali kapan, pastinya saya lupa. Saya jarang sekali berkumpul dengan teman-teman dulu semasa saya belum jadi mahasiswa, ada Intan yang untungnya masih sering online Y! Messenger dengan saya, dia juga online Facebook meski sebentar-sebentar seperti saya. Tapi setidaknya saya tahu kabar dia. Ada lagi Ayu, kalau yang satu ini lama sekali saya tidak ketemu dengan dia. Sampai-sampai saya belum lihat bentuknya dia setelah kecelakaan motor beberapa waktu yang lalu (hehehe, maaf Ayu). Tapi tentu saja, ada Facebook yang sekali lagi membantu kami untuk sekedar kirim salam.
Jadi baru hari kemarin, karena libur seharian penuh dan tidak ada kerjaan di kos (lebih tepatnya malas lagi, malas lagi), saya putuskan pergi ke pantai Kuta. Rencananya sih saya ke Kuta juga ingin lihat festival “ogoh-ogoh” yang dilombakan. Oh ya, ada yang baru pertama kali dengar “ogoh-ogoh”? Benda yang satu itu kalau di Jakarta namanya ondel-ondel. Ya benar, festival ondel-ondel. Tapi berbeda, bedanya “ogoh-ogoh” itu lebih seram. Bentuknya saja boneka-boneka setan, leak, tokoh pewayangan yang kejam, dll. Karena memang katanya (saya sih tidak begitu mau tahu), “ogoh-ogoh” itu dibuat dan selanjutnya akan diarak sehari sebelum Nyepi. Digunakan sebagai simbol dari setan-setan yang ada di muka bumi ini, bentuk lain dari segel untuk setan yang nantinya “ogoh-ogoh” itu akan dibakar, entah di pantai atau pekuburan adat Bali (pemakaman Bali tidak seperti layaknya pemakaman, karena mayatnya dikremasi jadi abu. Jadi, tidak ada kavling-kavling kuburan gitu). Saat malam Nyepi sebelum diarak, biasanya pemuda-pemuda Bali berkumpul dengan membawa alat musik berisik dan gong tangan untuk menciptakan suara-suara gaduh di jalan-jalan desa, kalau perlu sampai masuk hotel (seperti hari kemarin saat saya liaht iring-iringan ini masuk hotel dengan berisik). Tujuannya agar setan dan roh-roh itu keluar dan tidak mengganggu dan pindah ke “ogoh-ogoh” terdekat. So when you see “ogoh-ogoh”, imagine piñata with souls and evils inside to be burned.
Kembali ke bahasan awal, jadi kegiatan awalnya adalah untuk melihat festival tahunan itu di jalan Kartika Plaza di Kuta. Tapi sebelumnya mampir dulu ke pantainya untuk menjemput tetangga saya Rahma yang kerja di hotel (yang ingin menjemput sih tetangga saya yang lain yang kebetulan saudarinya). Jadi setelah berjuang keras menembus macetnya jalan sebelum ditutup (jalanan Bali sering sekali ditutup gitu, apalagi kalau ada upacara adat, tahun baru, dan Nyepi ini pastinya. Jalanan jadi super macet dan ruwet. Jalan sempit datu arah bisa jadi 2 arah, ramai kan?), saya harus banyak ambil jalan pintas sana sini, belum lagi saya lupa beli telur di pasar untuk persediaan makan (masih juga sempat mikirin makanan), akhirnya sampai juga di hotel tempat Rahma kerja dan dilanjutkan jalan sedikit untuk parkir di daerah Minimart dan Kamasutra.
Memang bukan baru kali ini saya melihat pantai Kuta itu sepi dari pengunjung. Tapi yang membuatnya special adalah, pantai Kuta yang kali ini sepi karena pantainya itu bersih dan tidak ada sampah-sampah di sekitarnya. Para penjual kaki lima pun sudah ditertibkan dan tidak lagi berjualan di pinggir pantai (padahal dulu ada ibu penjual mie goreng dan “tipat cantok” alias gado-gado Bali yang sering jadi terminal saya dan teman-teman saat berenang dan berjemur di pantai). Pemandangan jadi terasa luas dan nyaman karena daerah Kuta yang satu itu isinya lebih banyak turis asing ketimbang turis lokal yang banyak berkumpul di sekitaran Hard Rock dan McDonald. Bukannya sombong atau bagaimana, tapi teman-teman saya rata-rata punya hubungan dengan pria atau wanita asing. Jadi, play area-nya ya di pantai bule itu.
Tapi untung ya tidak ada paparazzi yang lewat saat saya masuk daerah pantai. Apa sebabnya coba? Ternyata kata Meta dan Intan, di belakang saya ada rombongan artis-artis ibukota yang lagi liburan. Ada lima atau enam orang sepertinya, dan saat saya menoleh kebelakang memang benar beberapa wajah di antara mereka sudah saya kenal di televisi. Wah, batin saya sedikit risih. Bagaimana tidak, ada artis yang kakaknya sedang dipenjara saja tapi adiknya bisa jalan-jalan bebas di Bali. Saya sih ketawa ketiwi saja sambil ngobrol tidak jelas dengan Ilman (sekali lagi saya bingung, apa Hilman ya?). Cukup terpuaskan sih meski sebentar, saya memang kangen mereka. Bercanda ringan seputar keadaan masing-masing dan update informasi rekan-rekan yang lain membuat saya merasa dekat lagi. Kurang lama memang, tapi ya apa boleh buat. Saya masih ada janji mau lihat festival. Oh ya, saya lupa. Bodoh juga rasanya saya, ada Ben (teman Intan dari Australia) yang becandanya di luar nalar saya. Anak-anak pada ketawa, sayanya malah melongo karena tidak nyambung. Sekali lagi dengan suksesnya, saya jadi bulan-bulanan humor. Duh, nasib!
To be continued…
Liburan sepi?
Sudah pernah ke Bali belum? Pasti lah ya sudah banyak yang pernah liburan ke Bali, secara cuma satu pulau yang namanya Bali yang jadi tujuan wisata kebanyakan turis domestik dan turis asing. Kalau ada yang belum, kasihan sekali Anda belum sekalipun melihat salah satu pulau terindah di Indonesia.
Beruntungnya saya karena tinggal di Bali, setiap hari berasa wisata dan bisa bepergian kemana-mana untuk sekedar melihat pantai, tempat-tempat wisata turis, dan wisata kuliner tentunya. Pertanyaan awalnya, mengapa ya saya memilih untuk berdiam di Bali? Jawabannya, tempat wisatanya cantik-cantik. Pulaunya terbilang kecil, dari ujung ke ujung saja bisa di tempuh kurang dari 12 jam. Dari jaman dahulu, yang diumbar-umbar dari Indonesia ya provinsi satu ini. Kenyataanya, fakta bahwa sugesti setiap hari serasa hari libur memang jelas dapat dinikmati. Bayangkan saja, dari tempat kerja saya hanya 5 menit untuk berenang di laut (meski saya tidak jago sama sekali berenang). Bosan ke laut, saya bisa pindah ke muara sungai ketemu laut. Kalau sedang surut, hutan bakau dan pantai agak-beceknya bisa jadi tempat nongkrong bareng teman-teman, atau lebih cocoknya bisa jadi spot pacaran yang santai (pastikan dulu super sepi kalau ingin sedikit berkeksperimen di sini, hahaha).
Orang-orangnya juga ramah-ramah kok (kecuali orang-orang juteknya, hehehe), saya jadi tidak takut untuk menetap di Bali. Sejauh ini saya selalu terbantu dengan tetangga-tetangga saya. Soal biaya hidup? Tenang saja, kalau Anda orang Jawa, hampir sama lah pengeluarannya kalau menyangkut perut (kecuali Jakarta, meski belum pernah lebih dari 3 hari di Jakarta tapi saya sudah pernah merasakan mahalnya makan di sana). Tapi memang ada yang perlu dikhawatirkan, kalau Anda seorang muslim atau muslimah perlu ekstra hati-hati memilih makanan. Pastikan Anda tidak tertipu menyantap daging babi (yang mirip ayam kalau diolah jadi nasi campur), karena Hindu memperbolehkan penganutnya memakan hewan ini. Jadi, hati-hati (tapi maaf ya Tuhan, saya termasuk salah satu yang suka kulit crispy-nya, hehehe). Dengan pengetahuan mini di atas, saya percaya diri saja memutuskan untuk berdomisili di pulau tropis yang indah ini.
Tapi tunggu, ibarat undian berhadiah, ada bonusnya kok kalau hidup di Bali. Pernah dengar istilah “Bali = Banyak libur” tidak? Serius, ternyata memang betul-betul banyak sekali libur (kalau kantornya memakai kalender kerja pemerintah). Jadi ceritanya, saat saya dulu bekerja di sebuah perusahaan yang menggunakan kalender kerja pemerintah, dalam setahun dari Januari sampai Desember, ada lebih dari 10 events yang pasti libur panjang (bisa molor juga lho liburnya kalau ambil cuti bersama). Namanya bermacam-macam, dobel-dobel lagi. Misal saja, hari raya Galungan dan Kuningan di Bali. Dalam setahun, 2 hari raya itu saja ada 2 kali masing-masing. Mengapa bisa begitu? Saya masih kurang paham memang, tapi sepertinya penanggalan kalender Hindu yang memakai acuan bulan, awalannya bisa jatuh dua kali setahun. Jadi, Galungan dan Kuningan pasti dobel, dalam satu bulan lagi. Kebayang tidak liburnya dempet-dempet gitu? Senangnya dulu (sekarang tidak bisa karena saya kerja di pariwisata).
Yang paling asyik itu bulan Maret tahun ini. Absensi kerja Anda akan berlubang-lubang dan pastinya menguras dompet kalau setiap liburan Anda sempatkan untuk jalan-jalan. Bulan ini ada Galungan yang jatuh pada tanggal 18 Maret, tapi tanggal 17 dan 19-nya juga libur bersama lho. Sehari sebelumnya dinamakan Penampahan Galungan dan sehari setelahnya namanya Umanis Galungan. Lalu tanggal 28 Maret itu hari raya Kuningan yang termasuk libur super panjang karena sejak tanggal 26 Maret itu ada hari raya Nyepi.
Sudah pernah merasakan Nyepi? Saya sudah sekali, dan dua kali besok tanggal 26 Maret merasakan Nyepi di Bali dan tidak keluar pulau (tidak punya duit aslinya, hehehe). Sebagai seorang muslim, buat saya Nyepi itu benar-benar merana. Serius, khusus satu hari itu Bali benar-benar lumpuh total. Tidak ada aktivitas kerja karena semua bidang usaha itu tutup. Jalan-jalan akan persis seperti yang terlihat di film “I Am Legend”-nya Will Smith. Tapi jangan harap Anda bisa melihat pemandangan jalan super sepi itu, orang keluar rumah saja kalau tertangkap lihat oleh “pecalang” (hansip adat Bali) bisa didenda. Ah, susahnya! Semua akses keluar masuk pulau ini ditutup, jadi tidak bisa kabur lho.
Dari pengalaman saya, liburan yang satu itu sungguh depressing sekali. Saya sih belum pernah menanyakan komentar teman-teman bule saya. Tapi pasti akan saya tanyakan sehari setelahnya supaya tahu pendapat mereka, hahaha. Tapi dari pengalaman saya yang lain, ada banyak cara mengakalinya. Sehari sebelum Nyepi, saya belanja stok makanan (ini perlu, Anda tidak akan bisa makan di luar sama sekali, saya jamin itu). Jadi pengalih perhatiannya ya saya memasak, ini sungguh-sungguh lho. Selain itu, siapkan juga banyak DVD. Kalau bosan karena tidak ada kerjaan, nonton film cukup bisa mengusir bosan. Tapi jangan lupa kecilkan volume suaranya, nanti tahu-tahu ada peringatan dari “pecalang”.
The most stressful thing about Nyepi is when the sun goes down and the night falls. Ampun deh soal yang satu ini. Jaman sudah modern dengan ditemukannya listrik dan lampu. Tapi kalau Nyepi, jangan kan lampu neon, lampu 5 watt yang remang-remang saja bisa terlihat terang kok kalau seluruh cahaya di Bali itu mati semua. Boleh ada cahaya kalau itu lilin, boleh juga menyalakan lampu kalau ada bayi dan balita. Tapi selain dari itu, jangan coba-coba deh menyalakan lampu tanpa melindungi kamar dari terlihatnya lampu kalau tidak mau ditegur “pecalang” yang lewat. Jadi apa yang dilakukan orang-orang? Kalau saya yang tinggal di rumah kos, saya sibuk di siang hari menutupi semua lubang ventilasi dan jendela atau apapun yang bisa terlihat terangnya cahaya dari dalam kamar saya. Menutupinya tidak tanggung-tanggung, dengan kardus kalau perlu. Hahaha, saya anjurkan Anda perlu sekali-kali mengalami kejadian ini. Karena mungkin akan terjadi kelucuan yang tidak akan sia-sia dilakukan di malam Nyepi. Kalau tidak mau repot-repot seperti ini, tinggal di hotel adalah salah satu jalan terbaik selain kabur dari Bali sehari sebelumnya.
Jadi, sudah siap untuk merasakan sendiri liburan sepi? Mau mengalami aksi-aksi baru saat kreatifitas Anda diuji saat Nyepi? Cobalah sendiri dating ke Bali saat Maret, selamat liburan sepi kalau begitu. Hahaha, saya tunggu ya!
